Pakaian Adat Minang, Ragam Kreasi Luhur Para Perancang!

Minangkabau, daerah tersebut cukup sering disamakan dengan Padang. Hal itu terjadi karena kepopuleran mereka di bidang kulinernya yang menyebar luas di jagat raya Indonesia. Wilayah ini juga memiliki banyak kekayaan budaya luhur, salah satunya pakaian adat Minang.

Mengenal Kota Minang

Minang merupakan salah satu wilayah di Provinsi Sumatra Barat dengan ibukota Padang. Kota ini merupakan pintu gerbang Indonesia dari samudra Hindia. Luas hamparannya yaitu 694,96 km². Berdasarkan kepercayaan temurun nenek moyang, penduduknya termasuk masyarakat Deutro Melayu.

Penduduk asli Minang sangat menonjol utamanya pada bidang perniagaan. Tak heran jika mereka dapat memperkenalkan sekaligus memasarkan berbagai jenis masakan kuliner khas daerahnya di seluruh antero Indonesia bahkan sampai ke Mancanegara.

Pemberian nama Minangkabau adalah legenda yang dikenal dengan istilah tambo. Kata itu mengartikan bahwa nenek moyangnya berasal dari keturunan Iskandar Zulkarnain. Wilayah kebudayaannya meliputi Riau, Jambi, Aceh, pantai barat Sumatera Utara dan Negeri Sembilan Malaysia.

Wilayah ini termasuk kota seni dan budaya. Minangkabau memiliki beragam ciri khas seperti makanan, rumah, hingga pakaian adat yang sangat menarik untuk diexplore.

Beberapa Pilihan Pakaian Adat Minang

Ada berbagai macam jenis busana unik sebagai lambang kebesaran dan simbol bagi pemakainya. Penasaran? Berikut ulasannya:

 Pakaian Bundo Kanduang atau Limpapeh Rumah Nan Gadang

Source: https://lh3.googleusercontent.com/proxy/y33ERsERjeehptT4fvrRh31prMGLpNKcIRl9N2wRl7HBIltSnoiLeKCb18VvBackON8StwQPRHgqHABy5DdY2hhT6Ebktx87p5t0_ePvZOGZcI9fJ_7M

Pakaian adat ini adalah busana bagi para wanita yang telah menikah. Memiliki arti tiang tengah rumah Sumatera Barat serta menjadi suatu simbol pentingnya peran seorang ibu di dalam sebuah keluarga. Berupa baju kurung berbahan bludru longgar. Dilengkapi dengan selendang, cawek, gelang dan kalung.

Ciri khas pakaian Bundo Kanduang Selanjutnya adalah memiliki minsie yaitu hiasan tepi baju atau biasa disebut bis dengan benang berwarna emas. Memiliki arti bahwa demokrasi Minangkabau sangatlah luas, namun tetap berbatas patut dan sesuai alur lingkungan.

Pakaian ini tak hanya sebatas busana untuk dikenakan di badan dan juga memiliki hiasan kepala sebagai ciri selanjutnya. Disebut dengan tingkuluak (tengkolok) berbentuk runcing bahkan ada pula yang bercabang. Filosofinya yaitu wanita sebagai tempat musyawarah mengikuti sakato atau sepakat.

 Pakaian Penghulu

Pakaian Penghulu

Pakaian satu ini merupakan busana keagungan yang tidak semua orang bisa mengenakannya. Warnanya hitam melambangkan kepemimpinan. Celananya berukuran besar memiliki arti pemenuh segala kebutuhan dan patut dituruti sebagai pemangku adat.

Ada lagi perangkat pelengkapnya seperti destar atau tutup kepala. Memiliki filosofi apa yang berada dalam pikiran si pemakai berdasarkan caranya melilitkan. Bentuknya berkerut dengan artian bahwa seorang penghulu harus berpikir dahulu sebelum berbuat dan bertindak.

Selain itu, masih ada lagi beberapa perlengkapan pakaian penghulu satu ini yaitu cawek atau ikat pinggang, sesamping, tungkek (tongkat) dan keris. Penggunaan senjata tajam tradisional tersebut diselipkan di pinggul relatif condong ke arah kiri. Filosofinya memberi nuansa kewibawaan diri.

 Pakaian Adat Pengantin Padang

Pakaian Adat Pengantin Padang

Pakaian adat Minang selanjutnya ini disebut juga marapulai/anak duro. Busana tersebut adalah baju asli khas daerah dengan warna merah, kuning dan hitam. Atributnya pun beragam sehingga dapat memancarkan aura pemakainya.

Tata rias pelengkap pakaian ini terdiri dari hiasan sunting kepala bermotif tumbuh-tumbuhan, tengkolok atau selendang rumbai dengan penggunaan dijatuhkan hingga kening. Ada pula yang disampirkan di bahu sisi kanan.
Pakaian tersebut dikenakan oleh para pengantin yang sedang melaksanakan acara pernikahan. Aksesorisnya meriah. Bagi kedua mempelai pengguna busana satu ini pasti akan terlihat lebih cantik nan anggun serta menawan dan gagah berwibawa untuk laki-laki.

 Baju Batabue

Baju Batabue

Selanjutnya adalah pakaian adat Minang bernama baju Batabue. Busana perempuan ini khusus hanya atasannya saja. Biasanya berwarna biru, merah dan hitam dengan motif khas Sumatra Barat yaitu terdapat corak benang emas.
Pakaian tersebut berupa baju kurung dengan hiasan benang emas sebagai simbol keharusan wanita untuk menaati peraturan yang telah ditentukan suku adatnya. Dari namanya yaitu Batabue, busana ini memiliki makna arti taburan.

Pada baju tersebut terdapat hiasan sulaman pernak-pernik yang memiliki filosofi sebagai lambang kejayaan alam melimpah ruah di Sumatra Barat. Motifnya elegan menawan serta menyimpan makna panjatan doa dan harapan masyarakat. Sungguh sangat patut diberi apresiasi.

 Lambak atau Sarung

Lambak atau Sarung

Jika busana sebelumnya adalah atasan saja, pakaian kali ini berfungsi sebagai bawahannya. Sarung bermotif khas Sumatra Barat tersebut memiliki bahan dasar kain songket. Pemakaiannya cukup diikatkan pada pinggang serta dapat dibentuk atau disusun ke sisi depan, belakang, maupun samping.
Pakaian tersebut terkemas sederhana dan juga simple. Tidak banyak tingkah aneh-aneh nan sederhana adalah simbol tersirat dari masyarakat Sumatra Barat melalui busana satu ini. Pemakainya pasti akan terlihat anggun dan tidak membuat bosan mata memandang.

Daya tarik dari jenis pakaian satu ini yaitu cara pemakaiannya yang dapat disesuaikan dengan selera penggunanya. Seperti hal lazimnya, wanita tercipta bersama sifat bawaan yaitu keribetan nan beragam. Maka sarung tersebut bisa menjadi penyelamat untuk style kaum hawa dan masih dalam lingkup sopan.

 Koto Gadang

Koto Gadang

Baju khas Sumatra Barat selanjutnya berasal dari wilayah dataran tinggi kabupaten Agam. Busana tersebut merupakan pakaian adat yang pernah dikenakan oleh Iriana, putri presiden Republik Indonesia Joko Widodo pada saat upacara peringatan kemerdekaan ke-73.

Keunikan pakaian adat Minang satu ini adalah tutup kepalanya cantik berupa selendang sulam emas berbahan dasar bludru. Aksesoris lain dari busana tersebut yaitu kalung cakiek, dukuah, serta keroncong. Dipercantik dengan gelang marjan. Tak lupa, jemari lentik dihiasi oleh cincin mato dan kankuang.

Untuk busana prianya, yang juga biasa disebut marapulai terbuat dari kain bludru. Ciri khas celananya longgar. Ada pula songket sebagai selempang samping. Lalu, penambah kesan gagah dan memunculkan aura wibawa pemakainya, diselipkan keris pada bagian pinggang.

 Sandang

Sandang

Pakaian selanjutnya ini berupa selendang yang menambah keunikan sekaligus sebagai ciri khas pakaian Sumatra Barat. Kain tersebut umumnya memiliki warna merah, melambangkan ketaatan pada aturan suku. Bentuknya segi empat dan biasa digunakan sebagai ikat pinggang.

Pakaian tersebut termasuk dalam salah satu aksesoris pelengkap istimewa baju penghulu. Sama seperti fungsinya, filosofi busana satu ini ialah sebagai kepatuhan pemakai kepada aturan-aturan yang mengikat dalam diri mereka. Sehingga tidak akan hidup sembarangan dan seenaknya saja.

 Sasampiang

Sasampiang

Sasampiang adalah kain yang digunakan oleh para lelaki di Sumatra Barat. Fungsinya sebagai aksesoris pelengkap. Umumnya dikenakan pada bahu. Hampir sama dengan selendang selampang khusus perempuan. Tentu keduanya memiliki warna filosofis tidak sembarangan.

Biasanya kain ini berwarna merah. Sejenis pakaian-pakaian adat lain sebelumnya, yaitu melambangkan keberanian. Tersisip pula aneka corak dengan ukuran lebih kecil sebagai pemanis tampilan. Tentunya masih memiliki makna tersirat seperti kebenaran dan ilmu pengetahuan.

Demikian tambahan ilmu dan wawasan terkait berbagai macam jenis pakaian adat Minang dengan keistimewaan coraknya. Segala kekentalan budaya telah tertuang pada saban rajutan makna yang tersirat di setiap busana leluhur.

Tinggalkan komentar